Rabu, 11 Maret 2009
Motivasi Kang Harits

Keluarga Mitra,
Kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya. Dan sungguh benar kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.
Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka.
Keluarga Mitra,
Sebenarnya rasa bahagia yang pernah kita rasakan sudah cukup untuk membuat kita baik hati. Cobaan yang kita rasakan sudah cukup untuk membuat kita kuat. Kesedihan pernah menimpa kita sudah cukup untuk membuat kita manusiawi. Pengharapan yang menghiasi hati kita sudah cukup untuk membuat kita bahagia.
Karena itu sungguh tidak ada alasan bagi kita untuk tidak baik hati, lemah, dan bersedih dengan yang menimpa sebab kita sering melupakan anugerah-anugerah itu.
Keluarga Mitra,
Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika Anda masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup.
Hidup adalah seni memilih, seni mengambil keputusan, seni mengubah penyesalan menjadi bara perjuangan. Kita hanya perlu melangkah. Jangan diam. Jangan berhenti terlalu lama.
Saat senyum bahagia meliputi kita, kita pun harus terus melangkah meskipun kita ingin berlama-lama menikmatinya. Begitupun saat luka menorehkan kesedihan, kita juga harus terus melangkah meski kita ingin berhenti saja dan kembali kemasa- masa bahagia.
Tapi tidak. Teruslah melangkah. Tidak ada waktu diam. Tidak ada waktu untuk membiarkan ragu. Sebab itu hanya akan membuat kita menunggu. Usir keraguan. Ciptakan kehidupan. Ukir masa depan. Faidza azzamta fatawakkal 'alallah
Keluarga Mitra,
Ketika anda memandang suatu masalah tanggalkan prasangka-prasangka. Prasangka bagaikan sepatu yang nyaman dipakai namun tak dapat digunakan untuk berjalan. Prasangka memberikan jawaban sebelum anda mengetahui pertanyaannya. Dan seburuk-buruk jawaban adalah bila anda tidak paham apa masalah yang sebenarnya.
Biarkan fakta yang tampak di hadapan Anda terima apa adanya. Jangan biarkan prasangka menyeret Anda ke ujung jalan yang lain. Mungkin Anda merasa aman dengan prasangka Anda, namun sebenamya ia berbahaya di waktu yang panjang. Bila Anda telah mampu melepaskan prasangka, Anda menemukan pandangan yang lebih jernih dan keberanian untuk mengatasi masalah.
Keluarga Mitra,
Matahari pagi takkan terbit dua kali untuk membangunkan orang yang tertidur nyenyak. Kesempatan pun takkan mengetuk dua kali agar Anda mau membukakan pintu keputusan Anda.
Kesempatan adalah waktu karena ia hanya datang sekali. Kesempatan adalah peluang karena Anda dapat mengambil atau mengabaikannya. Kesempatan adalah keluasan karena ia membuka jalan-jalan baru di masa depan.
Di hadapan kita berjajar pintu-pintu kesempatan tak terhingga terbuka lebar. Tapi kita hanya bisa memilih satu dan tak ada jalan kembali. Karenanya putuskanlah yang terbaik bagi Anda. Nasib tidak memihak pada siapa-siapa melainkan pada keputusan Anda.
Bila toh ia datang lagi, ia menampakkan wajah yang berbeda. Dan kesempatan terbaik yang Anda miliki adalah hidup yang hanya sekali ini. Pergunakanlah bukan hanya sebaik-baiknya namun yang terbaik-baiknya
Tak Cukup Hanya Menangis

Saudaraku,
Kehilangan memang menyakitkan. Apapun yang terlepas, baik dalam konteks pribadi atau yang lebih luas, tentu terasa menyedihkan. Karena apa yang kita miliki lekat sebagai bagian dari hidup kita. Bahkan ketergantungan terhadapnya mungkin telah tercipta. Ketika itu dicabut atau hilang, kita merasa hilanglah sebagian dari diri kita. Maka sangatlah wajar kalau kemudian ada tangis, minimal kesedihan yang menggumpal di dada. Mungkin tangis ini bisa meringankan sebagian beban hati. Boleh jadi air mata pun bisa membasahi panas hati yang terasa tak menentu. Namun tangis saja tidaklah cukup. Mesti ada tindakan lain yang kita lakukan ketika didera musibah kehilangan.
1. Ingat Kembali Sebab Kehilangan Kita
Kita bisa kehilangan suatu benda. Kita pun bisa kehilangan akhlak dan ketaatan pada Allah yang dulu pernah kita miliki. Kita bisa kehilangan generasi. Mungkin banyak manusia berkualitas yang telah pergi mendahului, hingga kita merindukan mereka. Atau kita merasa kehilangan teman sejati, karena meski banyak teman di sekeliling, namun tak satupun yang sejalan dengan hati kita.
Masyarakat juga bisa kehilangan tokoh kharismatik yang dulu pernah mereka punyai. Negara mungkin kehilangan wilayahnya, juga kehilangan pejabat-pejabatnya yang jujur. Rakyat pun boleh jadi kehilangan rasa aman dan kedamaian. Semakin hari makin panjang daftar kehilangan ini. Maka kita perlu waktu sejenak untuk mengais masa lalu. Untuk mengetahui sebab-sebab kehilangan. Untuk melihat kembali apakah kehilangan itu karena kecerobohan, atau kelalaian kita mendidik generasi, hingga kita kehilangan pemimpin yang bisa diandalkan. Mungkin juga karena terlalu kuatnya sisi eksternal yang membuat kita “tidak berdaya”. Terlalu banyak yang merusak daripada yang membangun. Padahal seribu orang yang membangun dengan susah payah bisa dihancurkan oleh satu orang saja. Apalagi kalau yang membangun hanya kita sendirian sementara yang merusak berjumlah seribu.
Kehilangan. Kehilangan kebiasaan membaca al qur’an. Kelihalangan kalau mata ini sulit menangis ketika membaca Al-Qur’an karena banyak tertawa, maka kurangilah tertawa. Kalau anak-anak terlalaikan karena terlalu banyak mendengarkan kidung cinta yang tertuju bukan pada Rabbnya, maka jauhkanlah kidung itu dari mereka.
Ahmad bin Khidir menikahi Umu Ali. Setelah pernikahan, Ahmad Khidir beserta istri datang kepada Abu Yazid Al-Bustomi. Sang istri memalingkan wajahnya. Ahmad bertanya, “Mengapa kamu memalingkan wajahmu?" Istrinya menjawab, “Karena setiap aku memandang wajah Abu Yazid, hilanglah semangat jiwaku. Dan setiap aku memandangmu semangat jiwaku bangkit." Setelah itu mereka berdua keluar. Ahmad berkata kepada Abu Yazid, “Nasehati aku.” Dengan singkat Abu Yazid menjawab, “Belajarlah dari istrimu."
Ya, pesan singkat bermakna padat. Umu Ali mengetahui sebab kehilangan sesuatu dalam jiwanya. Maka dia pun menghindarinya. Pantas saja Abu Yazid hanya berpesan pendek, “Belajarlah dari istrimu.”
2. Bangkitkan Kenangan, Dimana Dulu Kita Mendapatkannya
Ini hanyalah bagian dari cara untuk membangkitkan kebaikan yang dulu ternyata pernah bisa kita lakukan. Boleh jadi dulu kita pernah sering kali berpuasa atau sholat sunah. Namun kini kita tidak lagi melakukannya. Dan kita pun kehilangan kenyamanan hati seperti yang dirasakan ketika mengamalkan ibadah sunah.
Maka mungkin kita perlu mencoba untuk napak tilas. Kita cari dan kita munculkan lagi tempat dan suasana yang membawa pada keinginan beribadah. Kita munculkan alasan dan pendorong yang dulu bersemayam di hati. Hingga kita bergairah untuk kembali mendekati Allah dengan melakukan amalan sunah yang berkualitas.
Marilah kita mencoba kembali ke belakang barang sesaat, untuk membangkitkan kenangan bahwa dulu kita pernah mengukir kebaikan. Dengan harapan, kenangan ini menjadi pemicu bangkitnya naluri kita untuk kembali berbuat kebaikan, yang mungkin hampir punah.
3. Jadikan Orang di Sekeliling Kita Sebagai Pengontrol
Kehilangan bisa jadi muncul akibat kita tidak sanggup menjaganya. Kalau demikian adanya, tentu kita harus membuat kontrol-kontrol diri yang akan menjaga semua yang kita miliki. Kita bisa menjadikan orang-orang disekeliling kita menjadi kontrol bagi perjalanan kita. Untuk memantau kita.
Teman merupakan partner yang semesti-nya bisa memberikan kontrol positif, Tanpa itu persahabatan tidaklah banyak berarti. Dari mereka kita bisa mendapatkan masukan, nasehat, peringatan dan teguran. Ini semua merupakan pengawas dan penyeimbang langkah.
Umar ra. menjadikan masyarakat sekeliling-nya sebagai pengontrolnya. Sewaktu pidato perdananya sebagai khalifah, ia tanpa basa basi berani menanyakan siapa yang bersedia mengontrolnya. Detik itu pula seorang anak muda menghunus pedang, dan dengan lantang mengatakan bahwa pedangnyalah yang akan mengontrol Umar, jika mulai menjauh dari arnanah.
Selain ternan, musuh pun bisa menjadi pengontrol langkah kita. Karena musuh selalu mencari kelemahan kita. Dengan demikian sebenarnya kita secara cuma-cuma sedang menuai kritik, yang boleh jadi sebagian atau keseluruhannya ternyata bernuansa positif.
Seorang ulama salaf berkata, "Kenikmatan dan orang-orang iri selalu beriringan. Jika ada kenikmatan di sana pasti ada orang yang iri. Maka jika tidak ada orang yang iri kepada Anda berarti Anda telah kehilangan banyak kebaikan dalam hidup."
Kontrol inilah yang akan menjaga kita dari kehilangan untuk kedua kalinya. Kontrol inilah yang mengingatkan dan mencegah agar kita tidak sedih dan menangis untuk kasus kehilangan yang sama. Jadikanlah teman, lawan dan catatan sejarah sebagai cermin yang bening. Tempat kita melihat apa yang hilang dari wajah kita. Untuk mengetahui apakah seraut wajah cerah belum hilang dari kita.
4. Carilah Kembali Mutiara yang Hilang
Yang hilang mungkin kembali lagi. Yang pergi mungkin diharapkan datang lagi. Terus mencari agar ia kembali dan datang lagi adalah usaha yang tak boleh henti. Berbagai upaya harus diupayakan agar apa yang pernah hilang kembali lagi. Kerinduan pada Al-Qur’an harus dimunculkan kembali, Kenikmatan sholat malam harus diraih kembali. Kembalinya kedamaian di keluarga harus terus diupayakan jalannya. Keberkahan negeri yang pernah diraih harus dicoba untuk dikembalikan.
Tidak ada kata terlambat. Karena “mutiara” itu mungkin hanya terselip dari pandangan rnata kita. Mungkin kita hanya butuh sedikit lelah fisik dan lelah hati, kemudian “mutiara” itu akan berada di tangan kita lagi. Setelah “mutiara” itu kembali, ada rasa bahagia yang tidak terlukiskan. Bahkan kita bisa lebih bahagia dibandingkan ketika kita memegangnya pertama kali,
Apa yang hilang dari kita harus kita cari kembali. Andalus mercusuar kejayaan Islam telah hilang. Palestina kiblat pertama kita telah direnggut. Dengan rasa optimis tinggi dan usaha tak kenal lelah kita berharap "mutiara” itu jatuh ke tangan kita lagi. Meski mungkin perlu waktu yang tidak sebentar, namun langkah mesti segera dibangun.
5. Titipkan Semuanya kepada Allah
Menitipkan kepada Allah berarti menitip-kan kepada Dzat yang Maha Menjaga, Bintang gemintang dan segala benda angkasa luar yang tidak terhitung jumlahnya terjaga semuanya. Karena hanya Dialah yang Maha Menjaga. Tidak rusak dan tidak hilang apa yang dititip-kan kepada-Nya.
Sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak melepas seorang teman-nya. "Kesinilah aku lepas engkau dengan cara Nabi melepas orang yang hendak pergi, ‘Aku titipkan engkau kepada Allah yang tidak akan pernah hilang apa yang dititipkan kepada-Nya.’"
Titipkan diri ini agar tidak banyak kehilangan kebaikan. Titipkan generasi ini agar tidak hilang tersesat di belantara dunia. Titipkan negara ini agar dijaga dan tetap dilimpahkan keberkahan. Titipkan hati ini agar tetap menjadi pencetus ide-ide kebaikan. Ketika kita mulai khawatir akan kehilangan sesuatu, maka segeralah berdialog dengan Allah, agar Dia menjaga kita dan menjaga apa-apa yang kita takutkan akan hilang. Bahkan ketika kita sudah kehilangan, mintalah agar Allah mengembalikan kepada kita apa yang telah pergi.
Ketika Said kehilangan barang berharga, Hasan Al-Bisri berkata, “Pergi dan ambillah wudhu kemudian sholatlah dua rakaat dan berdoalah, Wahai Dzat yang Maha Lembut, Maha Pemberi, Maha Pengasih, Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, Pencipta langit dan bumi, Yang Mempunyai keagungan dan keutamaan, ampunilah aku dan kembalikan yang hilang dariku," Tak lama berselang, Said kembali kepada Hasan dengan barang berharga yang hilang sudah di tangannya kembali.
Meminta tolong dan menggantungkan harapan kepada sesama manusia, seringkali tidak mendatangkan solusi. Bahkan bisa menyesatkan. Berpindahlah pada Allah yang Maha Mengetahui ke mana perginya yang hilang dan “tempat menitip” yang paling aman, karena apa yang kita miliki tidak mungkin rusak dan hilang.
Yang telah hilang dari kita mungkin amatlah banyak. Sebelum berbuntut penyesalan berkepanjangan dan hanya menambah penderitaan, maka cepatlah bertindak yang benar ketika kita kehilangan. Wallahu’alam.
Selasa, 23 Desember 2008
Doa Awal Tahun
Doa awal tahun
Allah SWT berselawat ke atas penghulu kami Muhammad SAW, ahli keluarga dan sahabat-sahabat baginda dan kesejahteraan ke atas mereka.
Wahai Tuhan, Engkaulah yang kekal abadi, yang qadim. yang awal dan ke atas kelebihanMu yang besar dan kemurahanMu yang melimpah dan ini adalah tahun baru yang telah muncul di hadapan kami. Kami memohon pemeliharaan dariMu di sepanjang tahun ini dari syaitan dan pembantu-pembantunya dan tentera-tenteranya dan juga pertolongan terhadap diri yang diperintahkan melakukan kejahatan dan usaha yang mendekatkanku kepadaMu Wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia.
Wahai Tuhan Yang Maha pengasih dari mereka yang mengasihi dan Allah berselawat ke atas penghulu kami Muhammad. Nabi yang ummi dan ke atas ahli keluarga dan sahabat-sahabatnya dan kesejahteraan ke atas mereka.
Doa akhir tahun
Allah SWT berselawat ke atas penghulu kami Muhammad SAW, ahli keluarga dan sahabat-sahabat baginda dan kesejahteraan ke atas mereka.
Wahai Tuhan, apa yang telah aku lakukan dalam tahun ini daripada perkara-perkara yang Engkau tegah daripada aku melakukannya dan aku belum bertaubat daripadanya. Sedangkan Engkau tidak redha dan tidak melupakannya. Dan aku telah melakukannya di dalam keadaan di mana Engkau berupaya untuk menghukumku, tetapi Engkau mengilhamkanku dengan taubat selepas keberanianku melakukan dosa-dosa itu semuanya. Sesungguhnya aku memohon keampunanMu, maka ampunilah aku. Dan tidaklah aku melakukan yang demikian daripada apa yang Engkau redhainya dan Engkau menjanjikanku dengan pahala atas yang sedemikian itu. Maka aku memohon kepadaMu.
Wahai Tuhan! Wahai yang Maha Pemurah! Wahai Yang Maha Agung dan wahai Yang Maha Mulia agar Engkau menerima taubat itu dariku dan janganlah Engkau menghampakan harapanku kepadaMu Wahai Yang Maha Pemurah. Dan Allah berselawat ke atas penghulu kami Muhammad, ke atas ahli keluarga dan sahabat-sahabatnya dan mengurniakan kesejahteraan ke atas mereka.
Senin, 08 Desember 2008
Pandanglah Saudaramu

Saudaraku,
Perjalanan ini memang panjang dan melelahkan. Terkadang, mungkin kita terengah-engah kehabisan nafas untuk terus menapakkan kaki hingga sampai ke tujuan. Terkadang, mungkin kita terseok-seok merasa tak kuat dan hampir tertinggal oleh derap serta gerak para kafilah da'wah itu. Terkadang, mungkin kita tersandung dan terjatuh oleh aral dan kesulitan perjalanan.
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Tak satupun di antara kita yang tak pernah mengalami suasana perasaan seperti itu. Hampir semua kita, sekokoh apapun kepribadiannya, pasti akan mengalami situasi lemah dan merasa kekurangan tenaga. Memang demikianlah jiwa manusia, seperti yang pernah disabdakan Rasulullah SAW dalam salah satu hadits shahih, bahwa keimanan itu ada kalanya bertambah dan berkurang. Ia bertambah karena amal shalih, dan berkurang karena kemaksiatan.
Tapi ingat saudaraku,
Selama kita berusaha berada dalam kafilah ini, insya Allah kelemahan dan kekurangan kita tidak akan mampu menjatuhkan kita. Selama kita tetap komitmen bergerak dalam orbit komunitas jama'ah da'wah, insya Allah kita menerima banyak keistimewaan dan barakah. Selama kita tetap memelihara hubungan baik dengan kafilah da'wah, insya Allah semua kelalaian dan penyimpangan kita kemungkinan besar akan dapat diluruskan dan kembali kepada jalan yang benar. Kesimpulannya, kita baru akan jatuh terpuruk, tenggelam, dan terseret oleh arus yang lain, tatkala kita berada di luar arus atau orbit jama'ah da'wah.
Salah satu barakah hidup bersama orang-orang sholih adalah, mereka selalu mampu memberi nasihat dan pencerahan hati bagi orang yang duduk bersamanya. "Sebaik-baik sahabat adalah, orang yang bila engkau melihatnya, menjadi kamu mengingat Allah", Begitulah sabda Rasulullah SAW. Renungkanlah perkataan Rasulullah tersebut. Sekedar melihat seorang teman yang shalih akan memberi cahaya keshalihan yang berbeda dalam diri orang yang melihatnya.
Saudaraku para kafilah da'wah,
Melihat orang lain yang lebih tinggi kadar ibadah, zhuhud, jihad, dan ilmunya, pasti akan memberi pengaruh yang besar dalam diri kita. Merekalah yang akan mempengaruhi zhuhud kita, ibadah dan jihad kita. Karenanya, para sahabat generasi pertama disebut sebagai generasi istimewa, antara lain lantaran mereka senantiasa hidup bersama Rasululluh SAW.
Ada orang salaf mengatakan, "Jika aku merasakan kekesatan hati, maka aku segera pergi dan melihat wajah Muhammad bin Wasi'" (Nuzhatul Fudhola, 1/526). Ibnul Mubarak juga mengatakan, "Jika aku melihat wajah Fudhail bin Iyadh, aku biasanya menangis".
Itulah salah satu prinsip yang dipegang oleh orang-orang shalih terdahulu. Bagi mereka, bertemu dengan saudaranya adalah bekal spirit yang dapat membekali kebangkitan ruhani mereka. Dan memang demikianlah yang terjadi.
Simaklah kisah yang disampaikan oleh Ibnul Qosim, salah satu ulama fiqih di Mesir yang wafat tahun 191 H. "Aku pernah mendatangi Imam Malik sebelum waktu fajar. Aku tanyakan dia tentang dua masalah, tiga masalah, empat masalah, dan saya benar-benar melihatnya dalam suasana lapang. Kemudian aku mendatanginya hampir setiap waktu sahur. Terkadang karena lelah, mataku terkatuk dan aku tertidur. Ketika Imam Malik keluar Mesjid aku tidak mengetahuinya. Kemudian aku dibangunkan oleh pembantunya sambil mengatakan, "Gurumu tidak tertidur seperti kamu. Padahal saat ini usianya telah mencapai 49 tahun. Setahuku ia nyaris tidak shalat subuh dengan wudhu yang dipakai untuk shalat Isya'.". (Tartibul Madarik, 3/250)."
Saudaraku,
Apa yang terlintas dan terbetik dalam jiwa kita tatkala mendengar kisah di atas? Subhanallah. Riwayat-riwayat seperti itu banyak disampaikan dalam atsar, sehingga sulit bagi kita untuk tidak menerimanya sebagai suatu kebenaran. Disebutkan di sana, wudhu' Imam Malik tidak batal sepanjang malam, dalam rentang waktu hampir separuh abad. Kondisi seperti ini biasa dilakukan pada malam-malam musim panas. Artinya, Imam Malik rela untuk menyedikitkan makan dan minum sepanjang hari sehingga ia mampu memelihara wudhunya.
Salah satu salafus shalih bercerita,"Aku pernah bangun pada waktu sahur untuk mempelajari Al Qur'an kepada Ibnu Akhram, seorang ulama Damaskus. Tapi ternyata kehadiranku telah didahului oleh sekitar 30 orang. Dan aku belum memperoleh giliran sampai datang waktu ashar" (Nuzhatul Fudhola, 2/1145). Kebiasaan waktu itu, satu orang diberi giliran untuk mempelajari Al Qur'an sekitar 2 halaman. Lihatlah terhadap kesabarannya yang luar biasa untuk menanti giliran membaca 2 halaman Al Qur'an dari sebelum fajar hingga waktu ashar. Yang lebih mengherankan lagi, kedatangannya sebelum fajar telah didahului oleh kurang lebih 30 orang.
Saudaraku,
Membaca dan menelaah peri hidup orang-orang shalih juga mempu membangkitkan semangat baru dalam diri kita. Bisa dikatakan, membaca dan menelaah peri hidup mereka, hampir sama dengan kita menziarahi dan berhadapan dengan mereka sehingga kitapun menerima barokah dari Allah karenanya.
Karenanya Imam Abdul Jauzi Ra mengatakan, "Aku berlindung kepada Allah dari peri hidup orang yang tidak punya cita-cita tinggi hingga bisa diteladani oleh orang lain yang tidak punya sikap wara' yang bisa ditiru oleh orang yang ingin berzuhud. Demi Allah, hendaklah kalian mencermati peri laku suatu kaum, mendalami sifat dan berita tentang mereka. Karena dengan memperbanyak meneliti kitab-kitab mereka adalah sama dengan melihat mereka. Bila engkau mengatakan telah mendalami 20.000 jilid buku, berarti engkau telah melihat mereka melalui kajian engkau terhadap tingkat semangat mereka, kepandaian mereka, ibadah mereka, keistimewaan ilmu yang tidak pernah diketahui oleh orang yang membacanya........" (Qimatuz zaman ‘indal ‘ulama: 31).
Saudaraku,
Seringlah mengunjungi saudaramu dalam jalan ini. Jangan jauhkan mereka dari hati. Sering-seringlah berkunjung, bertatap muka, dan memandang wajah mereka. Di sanalah engkau akan menemui berkah hidup berjama'ah yang dapat memberi bekal bagi jiwa agar kita dapat melanjutkan perjalanan ini sampai tujuan terakhir ............ Ridho Allah dan Syurga-Nya. (M.Nursani)
Kamis, 27 November 2008
Kelezatan Tak Ada Bandingnya

Semoga kita tak pernah putus berdoa agar rahmnat Allah menaungi kebersamaan kita.
Saudaraku...
Manusia, tetap manusia. Bukan malaikat. Rasulullah SAW., sebagai hamba Allah teladan, juga manusia. Ia tetap memiliki tabiat kemanuisaan. Karena, andai sosok teladan untuk manusia itu bukan manusia, sudah tentu tak ada manusia yang bisa mengikutinya. Dan artinya ia tak mungkin dijadikan teladan.
Karena itulah Rasulullah mengucapkan doa: “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah manusia. Aku marah sebgaimana manusia marah. Maka siapa saja dari kaum muslimin yang merasa telah aku sakiti, aku caci, aku laknat dan aku cambuk, jadikanlah hal itu sebagai doa dan pembersih yang akan mendekatkannya kepada-Mu pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Meski tetap dengan kemanusiaannya, Rasul tetap memiliki predikat Al-Ma’shum --yang terpelihara dari dosa-- karena keimanannya yang tinggi dan Allah SWT., merahmatinya dengan selalu meluruskannya dari kesalahan. Iman sajalah yang membuat Rasulullah memiliki kemauan baja, cita-cita tinggi dan mampu terhindar dari bisikan syetan melalui hawa nafsu.
Saudaraku, ketahuilah...
Syetan adalah pemangsa orang yang lemah semangat, tidak percaya diri, pesimistik, dan tidak kuat kemauannya. Orang-orang seperti itu mudah terjebak dengan bisikan syetan. Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, “Jika syetan melihat orang memiliki kemauan yang lemah, cita-cita yang rendah, condong mengikuti hawa nafsu, maka syetan sangat menginginkannya, membantingnya dan mengekangnya dengan kekangan hawa nafsu dan kemudian mengendalikannya kearah mana yang ia kehendaki.
Tapi, jangan juga menganggap kita menaklukkan hawa nafsu karena kita merasa memiliki semangat tinggi, optimistik, sangat percaya diri, serta kuat kemauan. Karena sebenarnya perasaan seperti itu akan membuka celah syetan untuk menyelinap lalu menguasai hati. Ibnul Qayyim mengistilahkan hal seperti ini dengan “perampasan dan pencurian” syetan. “Jika syetan meraa orang itu memiliki kemauan yang teguh, jiwa yang mulia dan cita-cita yang tinggi, maka ia tidak menginginkan orang tersebut kecuali dengan jalan perampasan dan pencurian,” begitu urai Ibnul Qayyim al-Jauziyah.
Coba perhatikan perkataan Ali radiyallahu ’anhu. Menurutnya, ada empat momen kebaikan tertentu, yang paling berat dilakukan. Yakni, memaafkan ketika marah, berderma ketika pailit, menjaga diri dari dosa (iffah) ketika sendirian, dan menyampaikan kebenaran pada orang yang ditakuti atau diharapkan.”
Saudaraku...
Renungkanlah momen-momen seperti itu sebenarnya yang sering menjadi celah rawan perampasan dan pencurian syetan. Sulit sekali memberi maaf ketika justru amarah seseorang meletup dan dalam kondisi mampu melampiaskannya... Sangat sulit sekali memberi, apapun, yang kita sendiri membutuhkannya... Sangat sulit sekali memelihara diri dari dosa, bila kesempatan untuk melakukannya berulangkali terbuka lebar didepan mata kita. Apalagi, kita tahu tak ada orang lain yang melihat tingkah kita saat itu... Seberapa mampu kita menyampaikan kebenaran kepada orang yang kita takuti? Saudaraku, pada momen-momen seperti itulah kita manusia seringkali tergelincir.
Ada satu kata yang sangat sederhana untuk mengatasinya. Keikhlasan, itulah kuncinya. Keikhlasan membawa seseorang mudah untuk memaafkan dikala marah. Ikhlas juga yang menjadikan seseorang ringan memberi meski ia membutuhkan. Ikhlas, yang membuat seseorang tak memandang situasi dalam beramal dan menjauhi maksiat, meski tak seorang pun melihat. Keikhlasan juga yang membuat orang tak memandang resiko apapun dalam menyampaikan kebenaran.
Berkat ikhlas, Rasulullah SAW tercatat berhasil melewati momen-momen yang dianggap paling sulit tersebut. Rasul adalah sosok yang paling mudah memberi maaf, paling banyak memberi laksana angin, paling terpelihara dari penyimpangan, paling berani menyampaikan kebenaran kepada siapa pun. Benarlah ucapan Ibnul Jauzi rahimahullah, “Barangsiapa yang telah mengintip pahala (yang dituai karena keikhlasan) , niscaya jadi ringanlah tugas yang berat itu.” (Ar-Raqa-iq, Muhammad Ahmad Rasyid)
Saudaraku...
Lihatlah wujud ketulusan dari keikhlasan lain yang dimiliki Ibnu Abas. “Bila aku mendengar cerita tentang hujan yang turun disuatu daerah, maka aku akan gembira, meskipun aku didaerah itu tidak mempunyai binatang ternak atau padang rumput. Bila aku membaca suatu ayat dari Kitabullah, maka aku ingin kaum Muslimin semua memahami ayat itu seperti aku ketahui seperti apa yang aku ketahui.” Orang seperti Ibnu Abbas tak pernah memikirkan apa yang ia peroleh dari kebaikan yang ia lakukan. Ia cukup merasa bahagia, hanya dengan mendengar informasi informasi yang mungkin tidak terkait langsung dengan kepentingannya. Lebih dalam lagi keikhlasan yang dikatakan oleh Imam Syafi’i, “Aku ingin kalau ilmu ini tersebar tanpa diketahui penyebarnya....”
Karena itulah Saudaraku...
Da’i dan mujahid Islam terkenal, Imam Hasan Al-Bana mengatakan, “Ikhlas itu kunci keberhasilan.” Menurut Al-Bana, para salafushalih yang mulia, tidak menang kecuali karena kekuatan iman, kebersihan hati dan keikhlasan mereka. “Bila kalian sudah memiliki tiga karakter tersebut, maka ketika engkau berpikir maka Allah akan mengilhamimu dengan petunjuk dan bimbingan. Jika engkau beramal, maka Allah akan mendukungmu dengan kemampuan dan keberhasilan...” Al-Bana begitu serius memandang masalah ini, sehingga setelah kalimat tadi ia mengatakan, “.. Tapi bila ada diantara kalian yang hatinya sakit, cita-citanya lumpuh, diselimuti oleh sikap egois (tanda tidak ikhlas), masa lalunyapun penuh masalah, maka keluarkan ia dari barisanmu! Karena orang seperti itulah yang akan menghalangi rahmat dan taufiq Allah.” (A-awa’iq yang Muhammad Ahmad Rasyid)
Hasan al-Bana tidak berlebihan. Karena orang yang tidak ikhlas umumnya tidak selamat dalam perjalanan, “Hanya orang yang tidak ikhlas yang akan tergelincir.” (Shaidul Khatir, 355)
Saudaraku...
Dengan keikhlasan, kita jadi tak mudah diperdaya oleh nafsu. Dan itulah nikmat yang hanya dirasakan para mukhlisin. Seperti yang tertuang dalam nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah, bahwa mengutamakan kelezatan iffah (menjaga diri dari perbuatan durhaka), lebih lezat daripada kelezatan maksiat. Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Rasa sakit yang ditimbulkan oleh mengikuti hawa nafsu lebih dahsyat daripada kelezatan yang dirasakan seorang karena mempertaruhkan hawa nafsu.”
Sampai akhirnya... kita benar-benar meresapi perkataan salafushalih yang dikutip Syekh Muhammad Rasyid dalam Al-Awa’iq, “Berusaha sekuat tenaga menekan hawa nafsu itu adalah kelezatan. Kelezatan diatas kelezatan.”[M. Nursani]
