Selasa, 05 Mei 2009

Potensi Yang Menggetarkan Hati

Read More...

Rabu, 22 April 2009

Perhentian Ini Hanya Sementara


Ibnu Umar, tokoh sahabat yang terkenal sangat wara’, pernah ditanya, “Apakah para sahabat Rasulullah dahulu tertawa?” Pertanyaan sederhana, tapi menyiratkan kebuutuhan informasi yang akurat tentang karakter generasi terbaik. Ibnu Umar pun menjawabnya dengan jawaban seobjektif mungkin. “Ya, mereka tertawa, tapi iman di dada mereka laksana gunung.” Begitu jawaban Ibnu Umar.



Perhatikan, apa yang melatarbelakangi pertanyaan kepada Ibnu Umar tersebut. Para sahabat adalah kumpulan manusia yang memiliki keberaniaan dan pengorbanan yang tak ada bandingnya. Orang yang bertanya kepada Ibnu Umar, tertarik untuk menanyakan sisi kemanusiaan generasi terbaik itu. Dan ternyata, begitulah jawaban Ibnu Umar. Singkat, padat dan dalam maknanya.

Para sahabat terkenal sangat giat dalam beramal. Umar radhiallahu ‘anhu, bahkan mengatakan, “Aku sangat benci melihat seorang dari kalian menganggur, tidak melakukan amal dunia dan tidak melakukan amal akhirat.” Hari demi hari yang mereka lalui selalu bermakna peningkatan dan pengembangan dari sebelumnya. Ibrahim Al Harbi pernah menceritakan perihal imam dari generasi tabi’in, Ahmad bin Hambal. “Aku pernah hidup bersama Ahmad bin Hambal 20 tahun. Selama musim kemarau dan hujan, musim panas dan dingin, siang dan malam. Aku tak pernah mendapatkannya, kecuali ia lebih baik dari hari kemarin.” (Manaqib Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Jauzi, h.140)

Meski demikian, para shalihin itu tetap berada ditengah-tengah, antara kekerasan dan kelembutan, antara disiplin bekerja dan istirahat. Seperti juga Rasulullah menyifatkan dirinya dengan istilah “adhahuuku al-qattal”, orang yang gemar tertawa tapi juga gemar berperang.

Senyum sebagai bagian dari peristirahatan dan kelembutan, dalam pandangan mereka, bahkan menjadi salah satu sifat istimewa manusia yang tak dimiliki binatang. Ibnu Taimiyah ra., mengulas hal ini dengan uraian yang menarik: “Manusia itu hewan yang bicara dan bisa tertawa. Tak ada yang bisa membedakan manusia dari hewan, kecuali dari sifat-sifat kesempurnaan. Sebagaimana bicara menjadi salah satu sifat kesempurnaan manusia, demikian juga tertawa. Maka jika yang bicara itu lebih sempurna dari yang tidak bicara, begitu pula yang tertawa itu lebih sempurna dari yang tidak mampu tertawa.” (Fatawa Ibnu Tamiyah,6/121).

Yang perlu diingat, peristirahatan itu bisa lebih bermanfaat dengan dua syarat. PERTAMA, dilakukan hanya dalam waktu sementara dan temporal. KEDUA, tidak keluar dari batas-batas yang dibenarkan oleh syari’at. Melanggar dua sayarat ini berarti substansi peristirahatan akan hilang atau justru memunculkan akibat kebalikannya. Karenanya, tanpa kehati-hatian, peristirahatan dan sebuah jeda, bisa berubah menjadi sebuah kelemahan, kemalasan bahkan keterjerumusan pada tipu daya syaithan.

Peristirahatan, harus tetap patuh pada aturan syariat. Canda misalnya, tak boleh dicampur dengan dusta. Peristirahatan hanya variasi hidup yang penting dari rutinitas. Ia juga ibarat garam dalam makanan. Penting tapi tidak boleh berlebihan. Tokoh Ulama Kuwait Syaikh Jasim Muhalhil mengistilahkan hal ini dengan “waktu turun minumnya seorang pejuang”, yang akan mengembalikan stamina atau menghidupkan tenaga yang lebih besar dari sebelumnya. Tokoh ulama Mesir Hasan Al Bana menyebutnya dengan ungkapan: “Mujahid sejati, adalah, adalah yang tak tidur sepenuh kelopak matanya, dan tidak tertawa selebar mulutnya.” Itulah makna peristirahatan dan perhentian hakiki.[*]

Read More...

Selasa, 17 Maret 2009

Bagian Terpenting Dari Tubuhmu


Ibuku selalu bertanya padaku, apa bagian tubuh yang paling penting. Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu." Tapi, ternyata itu bukan jawabannya.


"Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakan lagi nanti."
Beberapa tahun kemudian, aku mencoba menjawab, sebelum dia bertanya padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar. Jadi, kali ini aku memberitahukannya. "Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita."
Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta."
Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, Anakku."
Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.
Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?"
Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku. Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, "Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar "hidup".
Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus mendapat pelajaran yang sangat penting." Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air. Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu."
Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?"
Ibu membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangi ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya."
Akhirnya, aku tahu. Bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialami oleh orang lain. Orang akan melupakan apa yang kamu katakan. Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan. Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.

Read More...

Cekikik


Cerita 01
Al Ashma'i berkata kepada seorang anak, " Hai bocah, maukah kamu diberi uang seratus ribu dinar sedang kau menjadi seorang yang tolol?"
Anak itu menjawab, "Tidak!"
"Mengapa?" tanya Ashma'i.


Dengan tenang anak menjawab, "Saya takut tolol, karena ketololan itu dapat membawa kepada kejahatan, dan akhirnya saya kehilangan seratus ribu dinar itu, sedang sifat tolol tetap saya sandang".

Cerita 02
Seorang ayah yang lain, menyuruh anaknya membeli tali untuk sumurnya sepanjang 20 hasta. Ditengah jalan ia kembali dan bertanya kepada ayahnya, "Ayah, panjang tali itu 20 hasta, lalu lebarnya berapa?"
Dengan kesal dan gusar si ayah menjawab, "Selebar musibah saya mempunyai anak seperti engkau"

Kita termasuk orang tua yang mempunyai anak yang seperti mana ya?????

Read More...

Senin, 16 Maret 2009

Bersyukur dan Bersabar


Hingga saat ini saya merasa bahwa belumlah menjadi suami dan bapak yang ideal. Berbagai upaya saya lakukan untuk menuju kesempurnaan sebagai suami dan bapak bagi anak-anak saya. Berbagai buku dan seminar yang berkaitan dengan tema suami atau menjadi orang tua teladan telah saya ikuti.


Saya juga mendatangi orang-orang yang katanya hebat dalam urusan ini. Bahkan saya pernah cuti khusus untuk mengikuti seseorang yang kabarnya berhasil menjadi orang tua. Semua perilaku hidupnya saya amati. Banyak pelajaran yang saya petik dari guru kehidupan saya tersebut.
Pengalaman menarik ketika saya mendatangi seseorang di Bekasi untuk berdiskusi tentang keluarga ideal. Setelah sekian lama berdiskusi akhirnya saya pamit pulang. Ketika saya menjabat tangannya untuk pamitan dia mengatkan “selamat keluarga anda adalah ahli surga,” langsung saya jawab, “dari mana Anda tahu kami keluarga ahli surga?” “Ciri keluarga ahli surga adalah bersyukur dan bersabar,” jawab sahabat saya.
Segera saya timpali, “darimana Anda tahu kami keluarga yang bersyukur dan bersabar”. Dengan cepat dia jawab, “Mas Jamil (hehehe) bersyukur karena mendapat istri yang hebat. Semantera istri mas Jamil bersabar dapat mas Jamil”. Kami tertawa, dan rasanya sahabat saya benar. Saya memang benar-benar bersyukur mendapatkan istri saya dan semoga dia bersabar mendampingi saya.

Read More...